12 Mar 10 - 2:00 am
Total Topics: 436
Total Posts: 2
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat bingung Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
mas david
memang sih, kalau mau mengandalkan kitab mereka memang susah berkembangnya tu kurikulum. Soalnya semakain mereka bahas, maka akan semakin terbongkar semuanya. dan mereka kayaknya tidak mau ha itu terbongkkar. Paling-paling petinggi mereka sekarang sedang mempokuskan kedunia filsafat. Dan berusaha menenumukan serta mensinkronkan filsafat ketuhanan sehingga menjadi filsafat trinitas. Maka dulu mereka mengumbar rumus segita sama sisi, namum kayaknya rumus tersebut masih belum mampu menjawab persoalan. Dan sekarang kayaknya ada yang baru rumus perkalian 1 dengan 1, tapi rumus itupun kalau di kaji maka bisa menunjuk begitu banyaknya tuhan mereka itu.
ok mas ismail, setelah melihat penjelasan anda, setidak-tidak saya jadi tahu bahwa tasawwuf tidaklah seburuk dugaan saya.
kalau masalah teman kita disono yang jarang OL, saya kira karena niat mereka hanya untuk mencari-cari kesalahan saja, tetapi rupanya mereka sudah kehabisan bahan, kata pak archa materi dari seminari mereka sudah jadul dan hanya mengulang-ulang pertanyaan saja.
Mas david.
Tasawuf sebenarnya tidak seperti yang mas david bayangkan itu. Memang banyak orang yang menidentikan tasawuf seperti sering menyendiri, bawa tasbi kemana-mana, mencari tempat-tempat tertentu untuk semedi, tapa, untuk mengola batin maksudnya, Layaknya seorang biksu atau orang-orang yang mengejar ilmu kebatinan dsb. Makanya kebanyakan kita rada-rada enggan bila berhubungan dengan dunia tasawuf yang kayaknya kurang rasional. kalaulah seperti imej anda dengan tasawuf, tentunya hal itu sudah sangat menyimpang jauh dari Al-qur'an, hadist dan tuntuan rasul. Tapi mas david sejauh yang saya tau tasawuf banyak menghasilkan para sufi besar tidak seperti yang kebanyakan di bayangkan oleh orang-orang itu. Kehidupan Para sufi tidak ubahnya seperti manusia kebanyakan. Bahkan kebanyakan diantara mereka berusaha untuk menyembunyikan kesufiannya hanya karena takut akan bahaya riya yang setiap saat akan menyerangnya. Meraka tidaklah mencaari karomah, ilmu kedigjayaan atau sebangsanya. Tidak mas. Yang mereka cari semata-mata hanya keridhoan dari Allah swt semata. Dengan cara mengiukuti dan melaksanakan semua yang telah diajarkan oleh Baginda nabi Muhammad saw dengan segala kemampuan yang ada padanya. Lainnya tidak. Mungkin ada sufi yang atas izin Allah swt mendapat karomah yang luar biasa. Ini bisa saja terjadi. Tapi hal tersebut bukanlah tujuannya. Dan karoma yang kebenaran diberikan Allah swt kepadanya itu lebih merupakan ekses yang timbul dari amal perbuatannya. Kalaupun ada yang tidak mendapatkannya, maka hal itu bukanlah masalah baginya. Karena itu bukanlah tujuannya. Dan disinilah letak bedanya para sufi dng para supranatural. Yaitu di niat yang ada didalam hati, menjaga niat itu dan memepertahankan niat itu sampai ajal menjemput.
Tapi mas david, ini omongan kita –kita aja ya?. abis teman kita yang disono itu jarang OL. Ya dari pada sepi kan lebih enak sharing ya nggak?
satu hal yang saya pahami selama ini bahwa ajaran tasawwuf itu sama dengan ajaran dunia kebatinan, suka menyepi ke tempat2 tertentu dengan amalan2 tertentu guna mencari petunjuk keselamatan dunia akhirat. hasilnya ada sebagian dari mereka yang memperoleh kelebihan supranatural, dsb. ataukah pemahaman saya yang salah? karena beliau yang saya sebut orang sufi di bawah biasa melakukan amalan tertentu dan juga memiliki kelebihan supranatural
mas ismail dan rekan muslim semua, terimakasih uraiannya.
sebenarnya ketertarikan saya pada sufi bukan untuk menjadi bagian dari mereka, tapi sekedar ingin mengetahui ajaran2nya yang sebenarnya, menyimpang atau tidak. kalau dari link mas bcak, wahdatul wujud ajaran syekh siti jenar sudah menyimpang ke ajaran hindu tentang jiwa yang harus disucikan dari nafsu agar dapat menyatu dengan Tuhan, sedang dari uraian mas budenk ternyata tidak menyimpang.
ya kira-kira begitulah rir. Disini aku mencoba untuk sedikit nambahi saja.
Rir. mandi pagi. Bagi anak usia tk atau anak kelas 1 SD, i merupakan kewajiban yang sangat berat untuk dilakukan kalau ada kesempatan untuk menghindar tentunya hal itu akan ia lakukan, mengapa karena dia belum mendapatkan betapa nikmatnya mandi pagi itu. Tapi bagi kita yang telah mendapatkan nikmatnya mandi pagi rasanya akan sangat tidak nyaman bila kita tinggalkan. Begitu juga Sholat Bila seseorang belum mendapatkan bagaimana lezat dan nikmatnya sholat, maka mengerjakan sholat itu merupakan pekerjaan yang sangat berat. Kalau ada kesempatan untuk menghindar pastilah kita menghindar dari sholat (kan banyak contohnya) bagi sufi yang telah mendapatkan rasa nikmatnya sholat maka akan sangat terasa sangat “tidak nyaman” bila ia tinggalkan. Karena itu sholat fardu itu sudah menjadi rutinitas mereka.
Sholat sunat itu akan terasa sekali menfaatnya bila sholat fardunya sudah beres semua. Sholat sunat tidak akan terasa menfaatnya apa bila sholat fardunya belum beres. Nah disinilah letak keutamaannya. Para sufi sudah tidak pusing lagi dengan sholat fardunya itu, karena itu sudah menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Dan sekarang mereka mulai mengutamakan sholat sunat disetiap ada kesempatan. Demikian kira-kira makna ungkapan tersebut.
bung syahril.
masih ada lagi ungkapan para sufi yang harus kita maknai secara cermat dan mendalam serta kita laksanakan.
Bagi para sufi, sholat yang paling utama bukanlah sholat fardhu. Tapi sholat yang paling utama itu adalah seluruh sholat-sholay sunat.
wah sebenarnya saya tidak pernah mendalami sufi. awalnya saya juga pernah menganggap sufi ini mirip dengan Hindu, tapi setelah mendapat penjelasan dari mbah budenk, sedikit banyak saya mendapat pengetahuan yg benar.
tapi saya coba jawab ya bang, mudah2an ngga salah.
sholat2 sunat lebih utama untuk dikerjakan karena tidak ada paksaan (kewajiban) didalamnya untuk melaksanakannya. namun bagi sufi, walau tidak ada paksaan tapi sangat rugi bila sampai meninggalkannya. jadi sholat wajib walau tidak diutamakan tapi tetap saja itu harus dilakukan karena kewajiban, sedangkan sholat sunnah kalo tidak diutamakan ditakutkan timbul kemalasan akibat tidak adanya paksaan (kewajiban) dalam melaksanakannya. kira2 begitu bang...
Kehidupan sufi bila kita lihat memang seoalah-olah Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur'an telah menyatakan:"...dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...Al Qashash. Tapi sebenarnya tidak demikian, para sufi itu sangat enjoy dan menikmati sekali apa yang disebut dengan kenikmatan duniawi. Hanya saja mereka menikmatyinya dengan cara mereka sendiri. Mereka mungkin tidak pernah makan dan minum pada siang hari, bisa jadi mereka sedang berpuasa karena Allah swt. Sehingga mereka merasakan sehai lapar dan sehari kenyang. Tapi mereka melakukan itu dengan keiklhasan untuk menggapai ridho allah swt. Dan dari sanalah mereka mendapatkan kepuasan dan kenikmatan yang tiada tara. Bagi orang semacam kita-kita kayaknya hidup seperti itu ’kurang enak’ tapi bagi mereka tidak malah sebaliknya, Bagi para sufi tidak hal lain yang ingin ia kejar kecuali keridhoan Allah swt semata dengan demikian mereka terkadang seolah-olah menurut penglihatan kita, mereka pasif terhadap kehidupan dunia padahal tidak mereka selalu menggunakan setiap detiknya untuk selalu beribadah kepada Allah swt. Tanpa seditikpun yang akan dilewatkannya. Kira-kira demikian yang saya tahu tentang sufi dang. Maaf kalau ada yang salah kata atau salah tulis.
Salah satu contohnya adalah she siti jenar, al halaj dll yang mati dibunuh akibat ungkapanya yang diangap sesat oleh kebanyakan orang. Padahal itu tidak lebih dari ungkapan rasa yang ia rasakan. Masalahnya adalah pengaruh dari ungkapan tersebut yang bisa saja menimbulkan keslahan interpretasi pada orang lain (muridnya) dan menyatakan bahwa gurunya /sufi tersebut adalah tuhan karena begitu dekatnya rasa sang sufi kepada sang khalik sehingga terucap kata umpamanya “aku dan allah adalah satu” Ungkapan inikan sangat menyesatkan bila diajarkan. Ntar kayak kaum Kristen jadinya. Yang menganggap ucapan yesus adalah tuhan lantaran yesus pernah berucap “ Aku dalam bapa dan bapa dalam aku, siapa yang melihat bapa maka ia melihat aku” Padahal tidaklah demikian adanya. Tidaklah mungkin seorang hamba dapat menyatu kepada sang khalik dalam arti yang sebenarnya sehingga tidak dapat lagi kita bedakan mana tuhan dan mana hamba. Ungkapan bersatunya hamba dengan sang Khalik itu lebih dititik beratkan pada rasa kedekatanya dengan sang khalik, yang karena begitu dekanya seolah-olah menyatu, namun mereka tidak berarti menjadi satu kesatuan yang tidak dapat sibedakan lagi. Tidak seperti itu, karena itulah saya hanya menyarankan berhati-hatilah dalam memaknai ungkapan sufi. Dan janganlah mendalami dunia kesufian hanya melalui buku yang banyak beredar (ini bukan berarti bukunya tidak baik loh) tapi saya sedikit khawatir kita akan salah memaknainya dan akan berakibat sangat fatal.
yah. memang disitulah letak permasalahaanyam dang. Banyak diantara kita yang masih berselisih degan ungkapan-ungkapan para sufi tersebut dan kalau kita perdebatkan ungkapan itu kayaknya sulit untuk mendapatkan kata sepakat karena masing-masing punya dalil yang bersumber pada al qur'an dan hadist. Dan karena ini juga biasanya non muslim selalu menyudutkan islam, padahal perbedaan yang muncul itu berawal dari sudut padang yang berbeda. Para sufi lebih menitikberatkan pada pengungkapan rasa yang ia rasakan dan diyakininya itu dari Allah swt karena ada ayat diantaranya sbb : QS.18:65 65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[886]. sementara yang lain tidak menitik beratkan pada 'rasa', melainkan pada logika berpikir (nalar) yang masuk diakal. Jelas kedua hal tersebut terkadang menimbulkan perselisihan makna.
next
Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang sufi adalah :
1. Dijadikannya perasaan dan ilham sebagai ukuran pengetahuan; juga dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah)". Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.
2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum islam dan yang bebas dari hukumnya.
3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif. Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur'an telah menyatakan:"...dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...[Al Qashash 77]
Jadi mas david.
Saran saya kalau memang ada ketertarikan pada dunia sufi, saran saya, dapatkanlah ilmu itu dari yang hidup dan jangan mendapatkan ilmu itu dari yang mati, karena lebih banyak mudhoratnya ketimbang menfaatnya. Semoga mas dapit dapat segera bertemu dengan orang yang saya maksud menjadi ikhwan guna mendapatkan semata – mata ridhonya Allah swt tanpa niat yang lain. Karena disitulah sebenarnya niat seorang sufi. Kira-kira demikian. Maaf kalau terkesan agak ‘sok pintar’ sedikit. Tapi percayalah saya tidak bermaksud demikian. Sekali lagi maaf ya.
Mas david
Seperti yang kita ketahui bahwa thoriqoh itu ada banyak sekali di dunia ini. Meskipun demikian untuk menentukan thoriqoh yang bermuara pada satu tujuan yaitu Allah swt, maka kita harus mencari thoriqoh yang mu’tabaroh. Artinnya thoriqoh yang ‘ilmu’ yang didapat oleh seorang ikwan itu adalah ilmu yang tidak terputus sambung menyambung seperti mata rantai yang tidak terputus dari seorang ikwan, gurunya, gurunya guru terus sampai kepada baginda Rasul Nabi Muhammad saw, tanpa putus nash-nya. Kalau terputus maka thoriqo itu bukanlah yang mu’tabaroh lagi.
Ada ungkapan yang bagus dari seorang hujjah al islam Imam Al G****** kira-kira intnya seperti ini “ Kamu mendapatkan ilmu dari benda mati, sementara kami mendapat ilmu dari yang hidup dan yang maha hidup”
Kalimat dari benda mati itu bisa berupa buku, catatan-catatan, informasi dari radio, tv dll. Sementara kalimat yang hidup itu adalah orang yang hidup yang mengajarkan ilmu, guru dll yang memang hidup. dan yang maha hidup adalah Allah swt.
next
david
Sebenarnya dunia sufi adalah sangat menyenangkan. Hanya saja banyak diantara kita yang kurang appreciation terhadap mereka. Hal ini dapat kita maklumi karena terkadang ungkapan mereka sepertinya sedikit 'nyeleneh' tapi walau demikian sebenarnya itu adalah hal yang sebenarnya yang ia rasakan. Masalahnya ada pada kita yang mencoba untuk mengartikan ungkapan itu. Tidak jarang ungkapan para sufi ditentang oleh orang yang memang tidak mendalami dunia ke-sufi-an itu secara mendalam, bahkan ada pula pihak-pihak tertentu yang ikut-ikutan menjadikan ungkapan para sufi sebagai referensi bagi mereka dan untuk tujuan tertentu. Untuk itu ada baiknya kita mendalami dunia yang satu ini untuk dapat merasakan apa yang para sufi rasakan. Mendalami dunia sufi tidak dapat kita pelajari dari buku-buku ‘kesufian (tasawuf) yang telah banyak beredar itu. bila kita belajar hanya lewat buku tersebut, maka yang kita dapatkan adalah pengetahuannya saja, sementara ‘rasa’ tidak akan kita dapatkan. Padahal ungkapan para sufi lebih berdasarkan dari rasa yang ia dapatkan. Dan rasa yang ia dapatkan itulah yang ia ungkapan dalam bentuk ungkapan atau tulisan. Dan disinilah terkadang ada makna yang kayaknya kurang pas, karena memang kadang-kadang ada kesulitan untuk mengunkapkan rasa yang dirasakan. Untuk itulah mereka para sufi sering memberikan kias, ilustrasi untuk mengungkapkan / menggambarkan rasa yang ia rasakan. Bila kita ingin Memasuki dunia sufi secara mendalam, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus belajar tasawuf. Dan ini artnya adalah kita harus berthoriqoh. Banyak diantara kita yang masih berselisih dengan thoriqoh dengan berbagai alasan macam-macam. Tapi nggak apa-apalah tentang hal itu, disini saya hanya mencoba untuk menjelaskan sekemampuan saya saja.
next
Isi ajaran Wali Sanga yang disampaikan kepada rakyat ialah ajaran Islam yang terutama bercorak mistik (Tasawuf) dari aliran Sunnah yang nutasyaddidah (ekstrem=keras), bercampur dengan aliran Syi’ah yang mu’tadilah (moderat=sedang) dan Syiah yang Khullah (ekstrem) keras.
Aliran-aliran ini di Indonesia membeku menjadi dua aliran :
1. Blok Sunnah Mutasyaddidah dan Syiah Mu’tadilah, ini diikuti Wali 8 yang disebut wali Sanga.
2. Blok Syi’ah Ghullah, diikuti oleh Syeh Siti Jenar yang dibunuh oleh Wali lain karena ajarannya yang menyesatkan.
Bung syahril.
masih ada lagi ungkapan para sufi yang harus kita maknai secara cermat dan mendalam serta kita laksanakan.
Bagi para sufi, sholat yang paling utama bukanlah sholat fardhu. Tapi sholat yang paling utama itu adalah seluruh sholat-sholay sunat.
ikutan lagi ya;
orang yg tidak sholat adalah orang yg sudah mati. jadi kalo seorang sufi bersama orang yg tidak sholat, maka berarti dia juga sudah mati.
tadinya aku mau ngepost yang intinya kira-kira sama seperti tulisamu, tapi aku berpikir, ntar jangan-jangan akan dipelintir oleh teman kita yang lain. Aku takut mereka salah menangkap maksud yang kita tulis dan ujung-ujungnya kembali ke kita lagi untuk menjelaskannya dengan bahasa yang sangat sederhana atau bila perlu dengan bahasa mereka dengan harapan akan dapat diterima dalam logika mereka. Setuju Bung. Mari kita berusuha menjalankan apa yang para sufi jalankan dengan cara semampu yang kita mampu. Oke kan?
ada beberapa pendapat beliau yang saya tidak sepakat, hal sholat itu wajib tetapi dalam situasi tertentu tidak, misalnya ketika beliau sedang bersama dengan orang yang tidak sholat maka beliau juga tidak sholat.
ikutan lagi ya;
orang yg tidak sholat adalah orang yg sudah mati. jadi kalo seorang sufi bersama orang yg tidak sholat, maka berarti dia juga sudah mati.
Contoh yang lainnya mas
Apapun Makanan yang dimakan oleh seorang sufi sudah tidak ada yang haram lagi. kemudian mas, Bagi seorang sufi ' Shalat lima waktu bukanlah kewajiban lagi baginya.
dan saya nyatakan bahwa kedua ungkapan tersbut benar adanya.
kira-kira bagai mana mas david mengkomentari ungkapan tersebut?
ikutan menjawab boleh ya...
- buat seorang sufi, makanan haram tidak dianggap sebagai makanan sehingga buat seorang sufi tidak ada lagi makanan haram.
- buat seorang sufi, sholat 5 waktu adalah kebutuhan. yg namanya kebutuhan itu bukanlah kewajiban. makanya sholat 5 waktu bukanlah kewajiban, tapi kebutuhan.
Contoh yang lainnya mas
Apapun Makanan yang dimakan oleh seorang sufi sudah tidak ada yang haram lagi. kemudian mas, Bagi seorang sufi ' Shalat lima waktu bukanlah kewajiban lagi baginya.
dan saya nyatakan bahwa kedua ungkapan tersbut benar adanya.
kira-kira bagai mana mas david mengkomentari ungkapan tersebut?
ada beberapa pendapat beliau yang saya tidak sepakat, hal sholat itu wajib tetapi dalam situasi tertentu tidak, misalnya ketika beliau sedang bersama dengan orang yang tidak sholat maka beliau juga tidak sholat.
Makanya mas hati-hati dalam memaknainya. Dan kalau boleh saya jelaskan sebenarnya ungkapan sufi tersebut benar. Tapi bukan berarti bahwa sufi tersebut meninggalkan sholat wajib dan sholat-sholat sunat yang lainnya. disaat tiba waktunya sholat pastilah sufi tersbut sholat mas, dan ketika saat mana dia bersama orang yang tidak sholat maka pada saat dia bersama orang-orang itu, dia pun tidak sholat (Pada saat dia bersama orang tersebut). Kebersamaannya dengan orang tersbut tentulah tidak setiap detik ke detik, menit ke menit dan jam ke jam. Pasti ada saat dia tidak bersama orang yang orang tersebut maka pada saat itulah dia melakukan sholat.
Umpamanya pada pukul 1 siang(saat sholat dhuhur tibam ada orang-orang yang tidak sholat datang ke rumahnya (tentu saat itu dia bersama orang yang tidak sholatkan) dan tentun juga saat itu dia tidak sholat dhuhur. Tetapi ketika hampir pukul 2.30 wib orang tersbur masih belum pergi juga, maka sang sufi tadi pastilah secara diam-diam pergi menjuh dari mereka untuk sholat. sehingga sholatnya sang sufi tidak diketahui oleh orang yang tidak sholat. kira-kira demikian mas
Ikut Nimbrung Mas David.
Saya hanya menyarankan saja mas. Tolong hati-hati dalam memaknai kata-kata dari seorang sufi(maaf saya bukanya melarang). Sebab kata-kata yang terucap darinya biasanya adalah gambaran dari dari perasaan hatinya yang begitu dalam cintanya kepada Allah swt. Sebagai contoh ungkapan " Allah swt tidak dimana-mana tapi Allah swt ada dalam hatinya" Ungkapan ini memang benar adanya. Tapi itu bukan berarti bahwa Allah (Diri-Nya Allah)itu bersemaym dalam hati layaknya sebuah benda berada dalam sebuah ruangan. Tidak demikian. Dan Tidaklah mungkin Allah swt. Yang Maha besar berada dalam hati yang kecil itu. Ungkapan para sufi tersebut kalau boleh saya mengilustrasikan sama sepeti hal seorang jejaka yang sedang kasmaran dengan seorang pujaan hatinya yang jauh dimata namun dekat di hati. Setiap saat yang ada dalam hatinya adalah pujaan hatinya itu. Padahal sang pujaan keberadaannya (dirinya) ada dikuar hatinya. Jikalah jejaka tersebut kadar kasmarannya lebih dari kebiasaan maka apapun yang terpandang dimatanya maka hati selalu berucap kepada pujaan hatinya itu. Sebenar rasa yang demikian hanrus ditujukan kepada Allah swt semata sehingga dalam hatimya tidak ada yang lain selain Allah swt. Kira-kira demikian mas david
ada beberapa pendapat beliau yang saya tidak sepakat, hal sholat itu wajib tetapi dalam situasi tertentu tidak, misalnya ketika beliau sedang bersama dengan orang yang tidak sholat maka beliau juga tidak sholat. Beliau juga menyarankan saya mengamalkan bacaan (entah apa saya lupa) berapa ribu kali agar rejeki tambah lancar, Padahal menurut ustadz Ahmad Sukina dari MTA itu tidak sesuai Q.S 6:162 sholatku amalanku hidup dan matiku hanya untuk Allah
mas budenk, terimakasih uraiannya,
saya pernah ngobrol dengan orang sufi, beliau mengatakan bahwa Allah tidak kok ada di mana, tetapi ada di dalam diri kita, di dalam hati kita masing-masing, mungkin maksudnya seperti uraian anda bahwa makhluk tidak bisa berdiri sendiri satumilidetikpun, waktu itu saya tidak tahu maksudnya apa, karena setahu saya Allah bersemayam di atas arsy dan ini sifat Allah yang tidak bisa ditakwili bagaimana bersemayamnya.
Wahdatul Wujud bukan peleburan dan penyatuan Tuhan dengan
Makhluk, tetapi secara sederhana adalah keterikatan Makhluk dengan Tuhan
bahwa Makhluk tidak bisa berdiri sendiri, semilidetik pun. Dan ajaran
Wahdatul Wujud tidak sebatas konsep, tetapi kesadaran jiwa yang berlangsung
secara terus menerus dalam setiap hembusan nafas. Semuanya turun dari akhlak
dan bermuara kepada Ihsan bahwa kamu menyembah Tuhanmu seakan-akan kamu
melihat-Nya dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka dia pasti melihatmu;
melihatmu bukan dalam waktu-waktu tertentu saja karena Dia Maha melihat dan
alangkah baiknya kesadaran itu ada pada setiap saat kehidupan kita.
Secara logika juga mustahil mengatakan Tuhan adalah alam, dan alam
adalah Tuhan. Dalam filsafat (khususnya filsafat Mulla Sadra),
dikenal apa yang disebut transformasi substansial materi. Pada
awalnya materi universe itu adalah entitas tunggal berupa energi
radiasi. Begitu terjadi Big Bang, mulailah terjadi serangkaian
transformasi substansial lewat suatu mekanisme yang dalam fisika
dikenal dengan istilah spontaneous symmetry breaking (SSB). Dari
rangkaian rangkaian transformasi substansial lewat SSB ini, munculah
keanekaragaman kosmos. Transformasi substansial ini ada yang sifatnya
kosmologis, biologis dan psikologis. Transformasi kosmologis
menghasilkan kenekaragaman quark, atom, senyawa, planet, galaksi.
Transformasi biologis menghasilkan keanekaragaman spesies biologis
dari yang bersel satu sampai yang bersel banyak. Transformasi
psikologis menghasilkan keanekaragaman spirit dari makhluk biologis
dimana disini manusia merupakan puncak kesempurnaan spirik makhluk
biologis. Mengatakan Tuhan adalah alam/materi sama saja mengatakan
bahwa penyebab transformasi substansial materi adalah materi itu
sendiri, yang mana ini mustahil. Penyebab terjadinya transformasi
substansial dalam materi PASTI suatu entitas DILUAR materi, suatu
entitas yang BUKAN materi dan TERPISAH dari materi. Jadi jelas secara
logika, Tuhan itu terpisah dari alam, sehingga jelas logika
pantheisme adalah mustahil.
@Bang David
Dalam QS Al Ikhlas Allah SWT berfirman :
1. Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Satu"
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada sesuatu apapun yang setara dengan Dia
Konsep wahdatul wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang
mempunyai wujud yang hakiki/mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah
wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun),
tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuat-Nya berawal
(karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah
KENISCAYAAN bagi keberadaan wujud wujud lain YANG BERAWAL. Alam
semesta dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak
hakiki, karena keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak. Oleh
para sufi segala wujud selain Allah itu disebut wujud al mumkin.
Berbeda dengan Wujud Mutlak, wujud al mumkin ini adalah wujud YANG
BERAWAL, artinya baru ada pada waktu awal tertentu. Misalnya alam
semesta yang baru ada pada saat Big Bang, yang oleh para kosmolog
diperkirakan terjadi 10 milyar tahun yang lalu. Oleh karena itu alam
semesta ialah wujud al mumkin, karena keberadaannya diwujudkan
(maujud) oleh Allah.
Jelas ada perbedaan prinsipil antara wahdatul wujud dengan
pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu BERSATU
dengan wujud makhluk, sedangkan wahdatul wujud menganggap bahwa wujud
Tuhan itu TERPISAH dari wujud makhluk. Jadi bagi penganut pantheisme,
wujud Tuhan itu nggak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah
Tuhan. Jelas dari sisi logika maupun dalil kepercayaan pantheisme ini
adalah sesat. Menyamakan wujud Tuhan dengan wujud makhluk sama saja
menyetarakan Tuhan dengan makhluk, yang mana ini bertentangan dengan
QS Al Ikhlas : 4. Menyamakan wujud Tuhan dengan wujud makhluk juga
bertentangan dengan firman Allah : "laisa kamitslihi syai’un" (QS 42 : 11), tidak
ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya.
padahal sudah disampaikan adanya ayat Al-Qur'an yang menyatakan reinkarnasi tersebut hanya ada pada keinginan orang-orang kafir yang sudah berada dalam kubur atau di neraka, mereka meminta agar dikembalikan ke dunia agar bisa memperbaiki diri, namun ditolak oleh Allah.
Sama juga soal konsep 'manunggal ing kawulo gusti', sudah disampaikan ayat Al-Qur'an yang menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada yang serupa dan setara dengan Allah, lalu bung bcak akan menyodorkan artikel sufi soal menyatunya Allah dengan makhluk yang ditulis oleh kalangan Islam, lalu akan ngomong :"Wah..ini urusan internal anda, yang jelas dikalangan Islam sendiri memang ada ajaran yang menyatakan Tuhan menyatu dengan makhluk...".
mas budenk, sebenarnya saya tertarik dengan hal sufi ini
tetapi bisa dikatakan kalau manunggaling kawula gusti dalam sufi tidak sama dengan pemahaman Hindu
dari buku Tasawuf Belitan Iblis karya Hartono Ahmad Jaiz, aqidah sufisme mengenai Allah memang seperti Hindu,
adanya makhluk itu adalah wujud Allah, maka tidak ada dua dalam wujud, pencipta dan makhluk, tetapi makhluk itu sendiri adalah pencipta itu sendiri, demikian sebaliknya
Nah membahas manunggaling kawula gusti juga kurang enak bila melalu tulisan karena akan banyak sekali tetapi bisa dikatakan kalau manunggaling kawula gusti dalam sufi tidak sama dengan pemahaman Hindu. Ini yang saya pelajari meskipun saya bukan sufi.
Bcak,
Iya bli memang uda Archa yang nulis tetapi bukankah paham Hindu menyatakan atman akan kembali menyatu pada Pencipta?
Objek yang dilihat oleh mata ini sangat banyak, berbilang dan berwarna, tetapi pada hakikatnya adalah manifestasi dari yang wujud. Allah Swt Maha Tunggal atau Maha Esa.
Disini maksudnya adalah di saat kita mencari wujud Tuhan maka adanya alam ini menunjukkan adanya Tuhan atau adanya sesuatu yang telah membuat alam, bukan pemahaman bahwa alam merupakan percikan wujud Tuhan
Bpk sudah menjelaskannya dengan baik trus kenapa saya bahas lagi hal itu????
Kalau begitu anda sudah diinfokan bahwa ketika seorang manusia memikirkan 'wujud/eksistensi' Allah maka tidak otomatis memunculkan
ada bayangan bentuk/rupa apapun, baik berupa benda termasuk tulisan nama Allah. Sebagai perumpamaan ketika anda memikirkan tentang : udara, apa yg tergambar dipikiran anda tentang bentuknya..?
Lain lagi kalau anda memikirkan makhluk yg punya bentuk/rupa misalnya : sapi atau dewa- dewa anda, atau pada ajaran Kristen terkait dengan bentuk/ rupa Yesus, bapa dan roh kudus, maka otomatis bentuk/rupa tersebut muncul di pikiran.
Bagaimana mungkin seorang Muslim akan memunculkan bayangan Allah berupa bentuk/rupa padahal sudah dikasih tahu dalam Al-Qur'an : tidak ada yang serupa dengan Dia..?
Selanjutnya silahkan anda lanjutkan diskusi dgn mas syahrir dkk di thread sebelah terkait soal ini. Anda sudah diberi input tentang istilah wujud/ eksistensi..
waduh bli ada salah penafsiran dari bli. Dalam hal ini Ibn Araby tidak membahas wujud ALLAH sebagai wujud tetapi membahas bahwa ALLAH yang satu mewujudkan alam dan seisinya yang banyak. Dalam wujud alam ini dapat dipandang sebagai perwujudan atau manifestasi ilmu ALLAH yang menciptakan.
Memang saya yang salah menafsirkan yach mas????
coba lihat lagi yang saya 'underline' pada tulisan mas dengan yang saya 'underline' sebelumnya,
Pengatahuan Allah yang berbilang-bilang ini adalah sumber manifestasi makhluk. Banyak ilmu dan banyak nama, tetapi hanya satu Allah SWT. Objek yang dilihat oleh mata ini sangat banyak, berbilang dan berwarna, tetapi pada hakikatnya adalah manifestasi dari yang wujud. Allah Swt Maha Tunggal atau Maha Esa.
Nah membahas manunggaling kawula gusti juga kurang enak bila melalu tulisan karena akan banyak sekali tetapi bisa dikatakan kalau manunggaling kawula gusti dalam sufi tidak sama dengan pemahaman Hindu. Ini yang saya pelajari meskipun saya bukan sufi.
Sedikitpun postingan saya kagak ada yang menyebutkan tentang hal itu, malah saya kurang mengerti tentang konsep 'manunggaling kawula gusti'.....
Itu pak Archa yang menyebutkan, jadi kapan saya menyatakan itu sama????
apa ada hal yang saya posting trus saya lupakan yach???
Saya sudah menduga, yang akan anda 'tangkap' dari tulisan sufistik tersebut adalah soal menyatunya Tuhan dengan makhluk - Manunggal Ing Kawula Gusti, karena terkesan dekat dengan paham Hindu yang menyatakan atman/jiwa adalah percikan-percikan Tuhan yang menjelma menjadi makhluk. Dan penjelasan tulisan tersebut soal pengertian 'wujud' bakalan anda lewatkan. Soal ini silahkan anda diskusikan dengan kalangan kaum sufi Islam, apakah konsep 'manunggal ing kawula gusti' tersebut memang mereka artikan sama seperti konsep yang ada dalam agama Hindu.
Sesuai yang anda tanyakan berdasarkan kamus yang disodorkan, 'wujud' tidak ada kaitannya dengan 'bentuk/rupa',
Saya tidak melewatkan pak.....
Bpk sudah menjelaskannya dengan baik trus kenapa saya bahas lagi hal itu????
Yang anda sampaikan tersebut pengertian kata 'wujud' yang sudah diadopsi kedalam bahasa Indonesia, dengan beberapa alternatif artinya, link tersebut juga mengartikan 'wujud' = wu·jud n maksud; tujuan. Kalau mau anda pakai mana pengertian kata tersebut terkait dengan konteks diskusi, silahkan dipakai pengertian no. 2 = adanya sesuatu.
suara saya memang bukan diri saya.
tapi, suara saya mewakili diri saya.
sedangkan kita sama2 tahu, tak ada yang setara dengan Allah. Allah (pada diriNya sendiri) tidak bisa diwakili.
contohnya sudah saya kasih: Prita.
dia 'berfirman/bersuara' di blognya, lalu kenapa yang dituntut adalah pribadinya, bukan tulisannya?
itu karena, suara/'firman' Prita [b]mewakili[./b] dirinya sendiri.
setujukah kamu kalau aku bilang bahwa jika al quran salah, maka Allah SWT juga salah..?
mengenai 'mulut', saya pikir Allah tidak menggunakan mulut ketika berfirman.
LOGOG disuarakan Y**H dengan cara yang tidak kita ketahui. yang jelas, LOGOS Allah, mewakili Allah. dan secara apapun (kuasa, kebenaran, kekudusan, dll), setingkat/setara dengan Allah.
bahkan jika Allah berfirman "Aku mati", bisa jadi Allah benar2 akan mati...
kalimat diatas itu untuk menjadi contoh aja, kira2 seperti apa kuasa dari LOGOS Allah.
sebenarnya analogi kasus prita lebih cocok disandingkan dengan tulisan Allah diatas batu Loh Musa. tapi anehnya tetep aja TF tidak mau menyembah batu Loh Musa, yg disembah cuma Yesus.
udah ngaku aja kalo kristen itu pada dasarnya ingin menyembah Yesus, bukan Firman yg katanya sama dengan Allah. argumen orang2 kristen sipenyembah berhala berusaha mencocokkan diri dengan ajaran monotheism. apapun usahanya tetep aja ngga akan nyambung selama orang2 kristen masih menuhankan Yesus.
Dikatakan, bahwa “Allah sebagai yang satu dan yang banyak.” Dari mana datangnya yang banyak? Datangnya yang banyak itu dari yang satu. Allah mengetahui segala sesuatu.
waduh bli ada salah penafsiran dari bli. Dalam hal ini Ibn Araby tidak membahas wujud ALLAH sebagai wujud tetapi membahas bahwa ALLAH yang satu mewujudkan alam dan seisinya yang banyak. Dalam wujud alam ini dapat dipandang sebagai perwujudan atau manifestasi ilmu ALLAH yang menciptakan.
Nah membahas manunggaling kawula gusti juga kurang enak bila melalu tulisan karena akan banyak sekali tetapi bisa dikatakan kalau manunggaling kawula gusti dalam sufi tidak sama dengan pemahaman Hindu. Ini yang saya pelajari meskipun saya bukan sufi.
Yohanes tidak menuliskan sexta hora. Ia menuliskan "hektos hora".
Anda ngotot mengclaim Yohanes memakai tradisi penghitungan waktu ala Romawi, kata “sexta hora” dalam link yang saya usung adalah kata bahasa Latin, bahasa yang dipakai orang Romawi kuno, dan “sexta hora” bagi orang Romawi kuno menunjukkan waktu tengah hari.
Latin (lingua lătīna, IPA: /laˈtiːna/) is an Italic language[3] originally spoken in Latium and Ancient Rome. http://en.wikipedia.org/wiki/Latin
(pergantian waktu adalah pukul 12 malam), sehingga, jam ke enam adalah jam 6 pagi.
Like us, the Romans divided each day into 24 hours, and they assigned 12 to the daytime and 12 to the night. These did not run from midnight to midnight as our modern method of timekeeping does, but
from sunrise to sunrise. http://www.roman-britain.org/calendar.htm
Apa benar dalam John 19:14 tertulis "hektos hora", coba anda cari dimanakah "hektos hora" tertulis dalam Gospel John, lalu kalau ada, apa artinya hektos hora???????
ah, itu kan maunya kamu...
dulu juga kamu bilang mustahil itu: memasukkan bumi ke kantong baju ukuran manusia.
eh, pas aku bilang, "kalau Tuhan bisa ngga memasukkan bumi ke kantong baju ukuran manusia?" kamu jawab, kondisi diluar ruang waktu berbeda dengan di dalamnya.
Harap anda postingkan di thread mana dan copy & paste jawaban saya atas pertanyaan anda diatas.
Pertanyaan "kalau Tuhan bisa ngga memasukkan bumi ke kantong baju ukuran manusia" adalah pertanyaan yang salah.
sekarang, jika Allah harus masuk akal dulu baru boleh dipercaya, berapa persen yang bisa kita masukkan kedalam akal kita?
1% ? itu belum masuk akal...100% itu baru masuk akal... konsekuensinya: kita jadi Tuhan.
Ga nyambung mas.
Begini saja dimana dalam bible tertulis statement Tuhan yang menyatakan : Aku adalah trinity??????
Apa dalam bible ada statement Jesus yang menyatakan dirinya sebagai Tuhan seperti Tuhan menyatakan diri dalam ayat-ayat PL ini?
Deut 32:39 Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.
Isaiah 43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
Kalau tidak ada ya tidak usah diada-adakan, memang kenyataan bahwa trinity tidak biblical/ alkitabiah.
Anyway kalau memang bible mengajarkan trinity tentunya paling tidak ada satu sekte Jahudi pre-christian sudah mengenal Jesus + Roh Kudus dalam trinity.
saya sudah menduga pasti akan ada ayat ini dan doa di taman Gethsemani...
jawabnya: itu sisi kemanusiaan Yesus.
Saya juga sudah menduga pasti jawabnya: "itu sisi kemanusiaan Yesus", dan jawaban anda justru mempertegas bahwa Jesus bukanlah Tuhan.
Apakah anda percaya dengan statement ini: Batu itu ketawa karena itulah sisi kemanusiaan batu itu, batu itu 100% batu juga 100% manusia.
kan udah pernah saya postingkan, elohim itu sebutan yang netral...
sekarang tergantung konteksnya, apakah elohim itu menjadi elohim karena memang Ia elohim, atau menjadi elohim karena diangkat oleh 'The True Elohim' menjadi elohim...
mahluk hidup dan ciptaan bukan hakekat, tapi status.
hakekat itu: manusia, tumbuhan, hewan, malaikat, Allah.
Menurut anda manusia A, manusia B hakekatnya satu --> manusia, makhluk A, makhluk B hakekatnya tentunya juga satu --> makhluk
Bisa tidak kalau dikatakan manusia, tumbuhan dll. bukan hakekat, tapi status.
Begini saja kalau mengikuti “rumus” anda hakekat manusia = 1 (saya tidak tahu Homo neanderthalensis dan Homo floriensis termasuk satu hakekat dengan manusia atau tidak), hakekat tumbuhan yang entah berapa juta jenisnya = 1, saya mau tanya, apakah sama 1 hakekatnya manusia dengan 1 hakekatnya tumbuhan?
So, bagaimana anda bisa menyamakan hakekat Allah SWT = 1 dengan hakekat manusia = 1????????
yang satu menciptakan... yang satu diciptakan.
Menurut bible pencipta langit dan bumi adalah Elohim, bukan Jesus atau Roh Kudus (Genesis 1:1)
So, bagaimana anda bisa menyamakan Allah dengan Jesus?????
Saya sudah menduga, yang akan anda 'tangkap' dari tulisan sufistik tersebut adalah soal menyatunya Tuhan dengan makhluk - Manunggal Ing Kawula Gusti, karena terkesan dekat dengan paham Hindu yang menyatakan atman/jiwa adalah percikan-percikan Tuhan yang menjelma menjadi makhluk. Dan penjelasan tulisan tersebut soal pengertian 'wujud' bakalan anda lewatkan. Soal ini silahkan anda diskusikan dengan kalangan kaum sufi Islam, apakah konsep 'manunggal ing kawula gusti' tersebut memang mereka artikan sama seperti konsep yang ada dalam agama Hindu.
Sesuai yang anda tanyakan berdasarkan kamus yang disodorkan, 'wujud' tidak ada kaitannya dengan 'bentuk/rupa',
Hak cipta
dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari forum-swaramuslim.net
dicantumkan
Questions & suggestion or problems regarding
this web site should be directed to
webmaster