Perlu dijelaskan disini, pandangan seorang Muslim terhadap Taurat dan Injil bukanlah sikap yang tidak berdasar atau bahkan merupakan hasil riset dan penelitian terhadap otentisitas alkitab, tapi begitulah yang diinformasikan dalam Al-Qur’an, jadi pernyataan tentang kepalsuan tersebut datang dari Allah, dilihat dari sudut pandang keimanan seorang Muslim. Karena sudah merupakan yang diimani maka sebenarnya kaum Muslim tidak perlu lagi repot-repot untuk menunjukkan dan mencari bukti, apalagi berusaha untuk menunjukkan mana Injil dan Taurat yang asli.
Pertama, perlu kita dudukkan dulu permasalahan tentang pernyataan Taurat dan Injil yang dipalsukan dikaitkan dengan alkitab :
1. Bahwa yang dimaksud dengan Taurat dan Injil seperti yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Musa dan Isa Almasih, sepadan dengan 5 kitab awal dari Perjanjian Lama (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) dan 4 kitab awal pada Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas, Johanes). Umat Kristen menyebut keduanya dengan Taurat dan Injil. Sedangkan untuk kitab selain itu kelihatannya umat Islam dan Kristen sudah ‘sepakat’ bahwa itu bukanlah Taurat dan Injil, tapi merupakan tulisan dan karya orang lain selain nabi Musa dan Isa Almasih, sekalipun isinya dikatakan merujuk dan berpedoman kepada apa yang disampaikan oleh kedua nabi Allah tersebut. Jadi tidak tepat kalau kitab selain Taurat dan Injil dikatakan merupakan firman Allah yang sudah dipalsukan karena ‘dari sononya’ sudah diakui sendiri oleh Kristen kalau kitab-kitab tersebut memang karangan dan tulisan manusia.
2. Pernyataan ‘Taurat dan Injil yang ada dalam alkitab adalah palsu’ tidak dimaksudkan untuk menyatakan semua isinya adalah palsu dan bertentangan dengan ajaran yang asli, sesuai yang telah difirmankan Allah kepada nabi Musa dan Isa Almasih. Pernyataan kepalsuan tersebut mempunyai arti :
(a) karena ukuran keaslian Firman Allah menurut Islam adalah kata dan kalimatnya merupakan redaksi dari Allah sendiri sedangkan posisi nabi/rasul sebagai penerima wahyu hanya bersifat menyampaikan, tanpa merubah, menambah atau menguranginya.
[46:9] Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
[6:19] Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quraan ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quraan (kepadanya).
[3:3] Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,
[6:19] Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quraan ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quraan (kepadanya).
[3:3] Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,
Sebagaimana Al-Qur’an, maka Taurat dan Injil juga merupakan kitab suci yang diturunkan dari Allah, sedangkan semua perkataan dan ucapan nabi/rasul sekalipun merujuk kepada Firman Allah, maka itu dikategorikan masuk dalam hadist, sebagai contoh misalnya nabi Muhammad SAW :
Hadis Anas bin Malik menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya : "Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad sekali, dia diberkati. Barangsiapa membacanya dua kali dia dan keluarganya diberkati. Barangsiapa membacanya tiga kali, dia, keluarga dan jiran tetangganya diberkati”.
Kalimat ‘qulhuwa Allahu ahad’ adalah Al-Qur’an yang termuat dalam hadist, sedangkan kalimat yang lainnya tidak dimasukkan kedalam Al-Qur’an tapi merupakan bagian dari hadist, sebaliknya dalam Taurat dan Injil yang ada pada alkitab, semuanya masuk dan dikategorikan merupakan Firman Tuhan.
(b) dikatakan palsu kerena memang terdapat kata dan kalimat yang diada- adakan, dikarang sendiri oleh si penulis alkitab, lalu dikatakan merupakan firman Tuhan (sekali lagi firman Tuhan menurut kriteria yang terdapat dalam ajaran Islam), sebagai contoh ayat yang terdapat pada awal kitab Johanes, merupakan karangan si penulisnya sendiri, bukan merupakan firman/wahyu dari Tuhan yang ‘didiktekan’ kepada Johanes, bahkan bukan merupakan perkataan Yesus yang dicatat oleh Johanes. Untuk kategori ini Al-Qur’an menyampaikan :
[2:79] Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.
(c) disebut palsu karena terdapat firman Allah yang telah disampaikan kepada nabi Musa dan Isa Almasih, namun disembunyikan dengan maksud-maksud tertentu seperti untuk mencampur-adukkan yang hak dengan yang bathil, Al-Qur’an menginformasikan :
[2:159] Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,
[3:71] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?
[3:71] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?
(d) ukuran berikutnya untuk menyatakan Taurat dan Injil yang terdapat dalam alkitab adalah palsu, berdasarkan ayat Al-Qur’an yang disampaikan secara tidak langsung menyebut kedua kitab tersebut :
[4:82] Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Ayat tersebut memiliki pengertian; kitab suci yang bukan berasal dari Allah pasti mengandung pertentangan didalamnya, saling membantah antara satu ayat dengan ayat lainnya, bahkan untuk hal-hal yang terang dan jelas. Dalam Injil kita bisa menemukan perbedaan silsilah Yesus Kristus yang sudah banyak didikusikan orang, baik berupa pertanyaan dari kaum Muslim maupun dikalangan internal Kristen sendiri.
Seorang Muslim menyampaikan kepada saudara-saudaranya yang beragama Kristen dan mengatakan :”Anda telah mengikuti kitab suci yang palsu..”, merujuk kepada ukuran yang telah ditetapkan Islam, jadi sebenarnya tidak tepat kalau kemudian umat Kristen bereaksi membantahnya karena ajaran Kristen sendiri punya kriteria sendiri tentang apa yang dimaksud dengan firman Tuhan, yaitu merupakan ajaran dan perkataan yang diilhamkan oleh roh kudus. Berdasarkan kriteria tersebut maka pihak Kristen tentu saja bisa mengklaim kalau kitab suci yang mereka pegang adalah asli. Yang seharusnya dilakukan adalah menguji apakah kriteria yang telah ditetapkan oleh Kristen tersebut memang merupakan kriteria yang tepat untuk mengukur suatu kitab suci memang berasal dari firman Tuhan atau bukan, apakah kriteria tersebut tidak menimbulkan masalah tentang siapa yang bisa menerima ilham dan apa isi dari ilham tersebut. Selanjutnya permasalahan sudah beralih kepada internal Kristen sendiri, karena terjadi perbedaan pendapat tentang apa dan siapa sebenarnya yang difirmankan oleh roh kudus. Kalangan Kristen sendiri menemukan adanya pertentangan (atau secara halusnya disebut perbedaan/paradoks) antara isi ilham yang satu dengan yang lainnya, dan seumur-umur para tokoh-tokohnya berusaha mencari cara untuk mencocokan antara ilham yang berbeda tersebut. Temuan ilmiah-pun berangsur-angsur memberikan bukti bahwa banyak juga isi Taurat dan Injil yang ada dalam alkitab ternyata tidak terdapat pada sumber rujukannya yang paling tua. Tanpa adanya ayat Al-Qur’an yang menginformasikan bahwa Taurat dan Injil yang ada dalam alkitab adalah palsu, tanpa perlu disampaikan soal kriteria tentang firman Allah, umat Kristen sudah ‘ribut sendiri’ tentang dasar ajaran mereka.
Pada saat seorang Muslim memberitahukan kepada saudara-saudaranya yang beragama Kristen tentang kitab suci mereka, dia sebenarnya mengambil posisi hanya sebagai penyampai apa yang telah diinformasikan Allah lewat Al-Qur’an, tidak lebih dan tidak kurang. Al-Qur’an menyebut demikian, itu pula yang diteruskan kepada anda. Apa manfaat atau mudhoratnya bagi kaum Muslim..?? yang pasti sebagai seorang yang mengimani kebenaran Al-Qur’an, umat Islam meyakini bahwa apa yang disampaikan Al-Qur’an tersebut memang begitu adanya. Terlepas dari isi alkitab yang asli atau bukan, umat Islam sudah punya Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, dan nilai-nilai ajaran Allah yang disampaikan dalam Taurat dan Injil kepada nabi Musa dan Isa Almasih sudah tercakup didalamnya. Jadi buat apa umat Islam harus susah-susah mencari dan menemukan bukti mana Taurat dan Injil yang asli karena hal tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan keselamatannya. Justru anda-lah sebagai penganut Kristen yang seharusnya berusaha untuk mencari bukti-bukti kebenarannya, demi keselamatan anda sendiri. Katakanlah seandainya kitab yang ada pada anda tersebut memang asli, maka anda akan termasuk orang yang beruntung, sebaliknya apabila ternyata apa yang disampaikan Al-Qur’an adalah benar, bahwa anda telah mengikuti ajaran yang melenceng, maka anda termasuk orang yang merugi dan bernasib malang. Yang pasti anda seharusnya tidak bisa bersikap seolah-olah ‘semuanya beres’, menutup mata melihat fakta bahwa dikalangan anda sendiri telah terjadi koreksi dan ‘perbaikan’ yang terus-menerus terhadap kitab suci anda, mencocok-cocokan perbedaan dan pertentangan yang ada dalam kitab suci, lalu ‘menyamankan diri’ dengan itu padahal jauh dalam lubuk hati anda sendiri sebenarnya ada keraguan. Apa untung dan ruginya sikap anda tersebut bagi umat Islam..?? sama sekali tidak ada karena hal tersebut menyangkut keselamatan anda sendiri, bukan keselamatan mereka.
Ibaratnya umat Islam melihat anda sedang memakan makanan beracun yang bisa merusak bahkan membunuh anda, saudara Muslim anda sebenarnya tidak tahu apakah makanan yang ada dihadapan anda itu mengandung racun atau tidak, tapi dia telah diberitahukan oleh pihak lain yang mengetahuinya, lalu itu disampaikan kepada anda. Seharusnya anda-lah yang harus memeriksanya karena yang akan menanggung akibatnya bukan dia, tapi anda sendiri. Tapi kalaupun anda mau bersikap :”Bagi sampeyan mungkin ini racun, tapi menurut ukuran saya ini bukan racun, kalau memang ini beracun, silahkan buktikan..”, mengapa bukan anda sendiri yang berusaha untuk meneliti makanan anda tersebut bisa merusak anda atau tidak..?? buat apa si Muslim mau repot-repot untuk membuktikannya..??
