Ada pernyataan menarik dari Prof. Jeffrey Lang, dalam bukunya ‘Struggling to Surrender’ yang menjelaskan hubungan antara bacaan Al-Qur’an dengan manusia bahwa, seorang bayi akan sangat senang mendengar suara ibunya, sekalipun dia belum mengerti makna ucapan ibunya tersebut. Demikian pula yang terjadi ketika seorang manusia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan.
Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia diciptakan berdasarkan fitrah :
fa-aqim wajhaka lilddiini haniifan fithrata allaahi allatii fathara alnnaasa 'alayhaa laa tabdiila likhalqi allaahi dzaalika alddiinu alqayyimu walaakinna aktsara alnnaasi laa ya'lamuuna
[30:30] Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
[30:30] Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
ketika seorang manusia mendengar Al-Qur’an dibacakan, maka bacaan tersebut masuk ke qalbu, sekalipun belum mengerti apa artinya, namun qalbu yang memang sudah di desain selaras dengan ayat Al-Qur’an tersebut akan mendengar suara yang serasa sudah dikenalnya. Ibarat bayi mendengar suara ibunya. Demikianlah bacaan Al-Qur’an berinteraksi dengan qalbu manusia.
Sebagai suatu mushaf, Al-Qur’an bisa saja berada dirumah, anda tempatkan sebagai pajangan di ruang tamu, karena mungkin mushaf Al-Qur’an anda terbuat dari tulisan tangan yang indah. Atau beberapa ayatnya dibuat dalam lukisan kaligrafi yang cantik (biasanya orang banyak membuat kaligrafi ayat Kursi) lalu memajangnya di dinding ruang tamu atau ruang keluarga. Namun sepanjang anda tidak membacanya, maka Al-Qur’an tidak akan berfungsi sebagai firman Allah yang bersentuhan dengan qalbu anda. Sebagai seorang Muslim, kita umumnya telah menghapalkan beberapa ayat pendek, seperti al-Ikhlas atau al-Kautsar, namun sepanjang hapalan tersebut tidak dibaca, maka hapalan tinggal hapalan, dia akan ‘tertidur’ dalam otak anda, tidak akan bersentuhan dan berinteraksi dengan qalbu. Itulah sebabnya Allah mewajibkan setiap muslim, ketika melakukan shalat untuk membaca ayat-ayat pendek yang ada dalam hapalannya, dan setiap shalat Maghrib, ‘Isya dan Subuh imam shalat membacanya dengan keras, didengar oleh para pengikut shalat. Ayat Al-Qur’an yang dibacakan terus-menerus, sekalipun anda tidak memahami artinya akan menjadi ‘nutrisi’ rohaniah yang memberikan energi buat qalbu anda.
Berdasarkan gambaran diatas, kita bisa merumuskan bahwa Al-Qur’an sebagai firman Allah, akan ‘bekerja’ ketika dia dibacakan, baik dibaca keras oleh kita sendiri, menghasilkan bunyi masuk ke telinga dan diterima oleh qalbu, maupun membaca dalam hati dan tidak menghasilkan bunyi yang melewati telinga. Bisa juga membaca dari tulisan yang ada dalam mushaf, maupun membaca dari pikiran karena berupa hapalan. Baik dibaca sendiri maupun dibacakan oleh orang lain (Allah menyatakan [7:204] Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat). Sebaliknya Al-Qur’an tidak bedanya dengan benda mati lainnya kalau tidak dibacakan, sekalipun ayat-ayatnya menghiasi dinding rumah anda dalam bentuknya yang indah.
Hubungan bacaan Al-Qur’an dengan qalbu tersebut sekaligus menggambarkan betapa luar-biasanya keadilan Allah. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, padahal pemeluknya sebagian besar bukan orang Arab yang otomatis bisa memahami bahasa tersebut. Dan tidak semua orang non-Arab dianugerahi kemampuan intelektual yang cukup yang bisa belajar dan memahami bahasa Arab. Namun Allah telah mendesain interaksi firman-Nya dengan manusia bisa dilakukan tanpa harus mengerti artinya. Interaksi bisa terjadi ketika seseorang mendengar ‘bunyi’ ayat Al-Qur’an dibacakan, dan bunyi tersebut bisa berasal dari orang lain. Pemahaman terhadap ajaran yang ada dalam Al-Qur’anpun tidak perlu harus melewati pengajaran kata-perkatanya, seorang muslim bisa memahami bahwa berzina itu perbuatan haram yang sangat dibenci Allah atau shalat dengan gerakan-gerakan tertentu adalah perintah yang diwajibkan Allah, melalui ceramah para ulama. Dan pengajaran para ulamapun disampaikan dengan cara dan gaya yang bermacam-macam, sesuai dengan kecenderungan dan tingkat intelektual setiap orang.
Allah telah mendesain interaksi antara firman-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan manusia, tidak akan terhalang oleh ketidak-beragaman kemampuan manusia, semuanya mempunyai kesempatan yang sama. Seorang pembantu dengan ‘IQ jongkok’ belum tentu akan mengambil manfaat yang lebih sedikit dibandingkan ‘sang profesor jenius’ dari ayat-ayat Al-Qur’an…
