Pikiran ini diperkuat lagi dengan adanya ayat :
wakadzaalika awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa maa kunta tadrii maa alkitaabu walaa al-iimaanu walaakin ja'alnaahu nuuran nahdii bihi man nasyaau min 'ibaadinaa wa-innaka latahdii ilaa shiraathin mustaqiimin
[42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
[42:52] Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Dan biasanya ayat ini dikaitkan dengan ayat yang lain :
wawajadaka daallan fahadaa
[93:7] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
[93:7] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Rasulullah dikatakan kebingungan (dan diartikan dalam keadaan tersesat) sebelum Allah menurunkan Al-Qur’an, dalam keadaan gelap gulita, tidak mengerti ajaran Islam (Al-Qur’an) dan tidak mempunyai iman (jadi kata ‘tidak mengetahui = tadrii’ apakah itu iman disamakan dengan tidak/belum beriman).
Permasalahannya bermula dari ‘kelancangan’ orang untuk mendefinisikan apa itu iman, sesuatu yang bersifat dinamis (karenanya suka berubah-ubah, Rasulullah mengatakan iman itu kadang naik dan terkadang turun). Secara arti kata, iman berasal dari bahasa Arab 'imaan, amana, amanah, mukmin' yang artinya ‘pembenaran hati dan kepercayaan terhadap sesuatu’. Iman juga merupakan hal yang bersifat abstrak. Ditambah lagi dikatakan iman itu bersemayam didalam ‘qalbu’ yang diartikan sebagai ‘jiwa/soul’. Qalbu juga sesuatu yang abstrak, walaupun Rasulullah mengatakannya sebagai ‘segumpal darah’ seperti dalam hadist :” “Ingatlah, bahwa didalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik (sehat) seluruh tubuhpun akan menjadi baik. Namun, jika segumpal darah itu sakit, seluruh tubuh pun akan menjadi sakit. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati=qalbu,” (HR Bukhari). Istilah ‘segumpal darah’ kelihatannya terkait dengan istilah hati/qalbu yang disebut juga dengan ‘nafs’. Kata ‘nafs’ juga bisa berarti ‘darah’ (makanya wanita yang haid dinamakan ‘an-nufasaa). Hadist Rasulullah ini menjelaskan bahwa apabila qalbu diisi oleh iman kepada Allah, maka SELURUH UNSUR KEMANUSIAANNYA akan beriman kepada Allah, tangan dan kaki, pikiran, seluruh perbuatannya mengarah kepada perbuatan seorang yang beriman. Iman adalah suatu yang dinamis dan abstrak, bersemayam dalam sesuatu yang abstrak juga dalam diri manusia, lalu bagaimana cara mendefinisikannya..??
Al-Qur’an sendiri tidak memuat definisi atau pengertian apa itu iman, ayat-ayat yang ada terkait dengan iman adalah menyebut ‘oknumnya’ yaitu ‘orang yang beriman’, atau ‘beriman kepada’, sama sekali tidak ada yang menyatakan : “Iman adalah……”. Jawaban yang populer kalau kita bertanya kepada seorang Muslim tentang apa arti iman, maka pada umumnya mereka merujuk kepada hadist Rasulullah ‘Al iimaanu 'aqdun bil qolbi wa ikraarun bil lisani wa 'amalu bil arkan - Iman adalah tanggapan hati, kemudian dinyatakan dalam lisan dan menjelma kedalam seluruh laku perbuatan. Namun kalau kita perhatikan, itu juga bukan merupakan suatu definisi yang mampu ‘mengidentifikasikan’ apa itu iman karena tetap menghasilkan sosok yang masih ‘sesuatu’. Ketika hadist tersebut menjelaskan soal apa itu iman, maka bunyinya baru menyangkut tentang BAGIMANA iman tersebut, yaitu ‘sesuatu’ hasil tanggapan hati, dinyatakan dalam lisan dan menjelma menjadi perbuatan. Namun kita tetap akan bertanya APA itu iman..?? dan hal ini belum terungkap dalam hadist tersebut. Kelihatannya Rasulullah mengeluarkan hadist tentang iman, bukan dalam rangka mendefinisikan apa itu iman, namun bertujuan untuk menggugah dan merangsang umat Islam untuk mendalami lagi soal keimanan ini sesuai apa yang ada dalam Al-Qur’an. Menurut saya, iman bukanlah sesuatu hal untuk di definisikan, karena begitu kita mendefinisikannya, kita akan ‘menjebak’ iman tersebut menjadi suatu yang statis, akhirnya kita akan tersesat, sampai menyatakan adanya kondisi : ADA atau TIDAK ADA iman.
Lalu kita akan bertanya : kapan mulai adanya iman dalam hati..?? atau lebih tepatnya kapan adanya IMAN KEPADA ALLAH mulai ada dalam qalbu kita..??.
wa-idz akhadza rabbuka min banii aadama min zhuhuurihim dzurriyyatahum wa-asyhadahum 'alaa anfusihim alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa an taquuluu yawma alqiyaamati innaa kunnaa 'an haadzaa ghaafiliina
[7:172] Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
[7:172] Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Sebelum seorang manusia dilahirkan ke dunia, iman kepada Allah sudah ditanamkan kepada roh/jiwa. Qurasih Shihab mengartikan : ayat ini tidak menyatakan ‘Allah mengambil dari Adam’ melainkan ‘dari punggung mereka’, yaitu punggung anak-anak Adam, demikian juga tidak berkata ‘keturunan Adam’, tapi ‘keturunan mereka’. Karena itu ayat diatas lebih tepat dipahami sebagai illustrasi tentang aneka pembuktian menyangkut ke-Esa-an Allah yang melekat pada diri manusia melalui fitrah (Tafsir al-Mishbah).
Allah bertanya kepada roh manusia sebelum mereka dilahirkan ke dunia ;”Bukankah Aku ini Tuhanmu...?”, Allah memakai kata ‘rabb’ untuk menyebut diri-Nya, dan bukan ‘illah’. Rabb memiliki pengertian ‘pencipta, pemelihara’ sedangkan illah diartikan ‘tempat mengabdi’. Ketika roh manusia mengakui :”Betul, kami bersaksi..”, artinya roh tersebut menyatakan KEIMANAN mereka kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta, dan belum keimanan kepada Tuhan tempat mengabdi/ beribadah, karena mengabdi membutuhkan ‘panduan’ tata-cara mengabdi. Pengabdian manusia terhadap Allah hanya diwajibkan ketika manusia tersebut sudah dilahirkan [QS 51:56]. Ayat tersebut menyebut manusia, pihak yang diminta Allah untuk memberikan kesaksian dengan ‘anfusihim’ = kepada jiwa mereka. Al-Qur’an menyebut kata ‘nafs’ dengan beberapa pengertian antara lain : hati [QS 17:25], nafsu [QS 12:53], jiwa atau roh [QS 3:145], dll. Pemakaian istilah ini bersinggungan dengan pemakaian kata ‘qalbu’ yang juga berarti ‘hati’. Ketika manusia terlahir kedunia dan hidup (pengertian ‘hidup’ adalah ‘nafs’ yang sudah diberi tubuh, sebaliknya ketika roh dan tubuh terpisah, manusia tersebut dikatakan mati), keimanan tersebut ada dalam ‘nafs’ tersebut dan Al-Qur’an sering menyebutnya dengan ‘qalbu’.
Manusia sebagai makhluk hidup memang sudah di desain untuk beriman kepada ‘rabb’ sebagai Tuhan yang mencipta dan memelihara, tidak peduli siapapun orangnya dan sudah ditanamkan Allah sebelum manusia lahir ke dunia. Rasulullah menyampaikan hadist : Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami). Ayah dan ibunya lah yang kelak menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala).’' (HR. Muslim). Sebagian besar ulama menafsirkan kata ‘fitrah’ disini adalah dalam kondisi beriman/mukmin, ketika dikatakan orang-tua anak tersebut menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (sebagai suatu ajaran), maka pengertiannya adalah suatu ajaran yang ‘menyimpang’ dari keimanan asli manusia tersebut. Dalam kedaan tertentu manusia ‘secara otomatis’ bisa kembali ke fitrahnya, mengakui Tuhan, misalnya ketika Fir’aun dalam keadaan sakharatul maut mau tenggelam, manusia yang suka mengklaim dirinya sebagai Tuhan ini kembali memunculkan fitrah kemanusiaannya sebagai makhluk yang beriman [QS 10:90], ataupun illustrasi Al-Qur’an tentang manusia yang terdesak dalam hantaman topan dan gelombang ditengah lautan, fitrahnya sebagai makhluk yang beriman akan muncul [QS 10:22].
Al-Qur’an sering menyebut istilah ‘tidak beriman’ atau ‘iman yang hilang’ ataupun ‘hati yang tidak beriman’, kita harus melihat pengertian ini bukanlah berarti : iman yang ada dalam qalbu manusia, yang sudah merupakan fitrahnya, pergi dan menghilang keluar qalbu tersebut, iman terhadap Tuhan sebenarnya masih tetap ada, melekat pada qalbu manusia, karena memang sudah didesain qalbu tersebut harus tetap melekat dengan iman. Yang terjadi adalah : qalbu tertutup sehingga tidak menyadari adanya iman disana, dan orang tersebut disebut dengan ‘kafir’, istilah ini disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an dengan pengertian : menutupi [QS 14:7], melepas diri [QS 14:22], menghapus [QS 2:271]. Jadi seorang kafir bukanlah dia sebagai manusia yang tidak beriman, tapi dikatakan : qalbunya tertutup dan tidak mempu melihat adanya iman tersebut sehingga menyangkal adanya 'illah' sebagai tujuan peribadatan. Makanya Al-Qur’an menggambarkan orang kafir adalah orang yang qalbunya telah ditutup oleh Allah [QS 4:155], [QS 5:13, [QS 6:25], [QS6:43], [QS 17:46], [QS 18:57], [QS 30:58], [QS 47:16], [QS 83:12] sehingga tidak bisa merasakan iman.
Nah..sekarang kita menuju ke pokok persoalan : Apakah Rasulullah sebelum diturunkan Al-Qur’an adalah seorang yang tidak beriman kepada Allah..??? Sebagai seorang manusia yang telah dipilih Allah untuk menjadi nabi dan Rasul, tentunya Allah sudah mempersiapkan beliau sejak awal. Dalam riwayat, ketika Rasulullah kecil, mengembalakan domba, datang 2 orang malaikat berpakaian putih. Mereka membelah dada Rasulullah mengeluarkan sesuatu (Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, KH Moenawar Khalil). Peristiwa tersebut menjelaskan bahwa Allah sudah memelihara qalbu Rasulullah sejak dini, agar qalbu tersebut tidak tertutup dari iman kepada Tuhan sebagai ‘rabb’ yang telah membuat perjanjian dengan ‘nafs’ ketika manusia belum dilahirkan. Itulah sebabnya sekalipun masyarakatnya menyembah berhala dan menjalani segala macam kemungkaran, Rasulullah tidak tercatat mengikuti semua penyimpangan tersebut, Rasulullah tetap berada dalam fitrahnya sebagai manunia, makhluk yang beriman kepada Allah. Sebenarnya ini bukan hanya terjadi kepada nabi Muhammad SAW saja. Kita menemukan juga cerita yang hampir sama terhadap nabi Ibrahim. Lingkungan nabi Ibrahim, bahkan Bapaknya sendiri adalah penyembah berhala, namun Al-Qur’an mencatat nabi Ibrahim bukanlah penyembah berhala. Dalam Al-Qur’an diceritakan proses nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan panca inderanya [QS 6:75-79], ini membuktikan bahwa nabi Ibrahim bukanlah penyembah berhala sekalipun keluarganya melakukannya, kalau beliau ikut keluarganya tidaklah mungkin nabi Ibrahim masih mencari-cari Tuhan. Artinya sejak kecil qalbu nabi Ibrahim telah dipelihara oleh Allah untuk tetap merasakan iman, namun iman tersebut masih berbentuk iman kepada ‘rabb’, kepada Tuhan yang menciptakan dan memelihara, dan belum iman kepada ‘illah’, kepada Tuhan tempat mengabdi. Mengabdi/beribadah artinya melakukan kegiatan dan perbuatan yang telah ditetapkan dan tidak mengerjakan apa yang dilarang. Keimanan nabi Ibrahim dalam bentuk keimanan kepada ‘illah’ terjadi setelah beliau mendapat petunjuk, makanya beliau berkata :” Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."[QS 6:77] dan petunjuk tersebut antara lain berupa ‘suhuf’, lembaran yang berisi syariat Allah yang harus dijalankan oleh nabi Ibrahim [QS 87:19].
Hal yang sama terjadi pada diri Rasulullah, baiklah kita coba berimajinasi bagaimana keadaan Rasulullah setelah beliau dewasa dan menikah. Seorang yang sudah mapan dalam umur 25 tahun, punya istri ‘konglomerat’ Quraisy yang kaya, dikenal sebagai orang jujur dan tidak melakukan ‘hura-hura’ sebagaimana kebiasaan kaumnya. Dalam aspek keyakinan, nabi Muhammad adalah pengikut ‘millah’ Ibrahim yang hanif, sebagaimana juga keyakinan yang dimiliki Siti Khadijah, istrinya. Waktu itu Allah sebagai nama Tuhan sudah dikenal oleh bangsa Arab Makkah [QS 10:31], [QS 31:25] [QS 43:9], namun Allah tidak disembah sebagai Tuhan, mereka menciptakan anak-anak perempuan bagi Allah dinamakan Latta, Uzza, dll, itulah yang mereka sembah. Qalbu Rasulullah yang telah dipelihara oleh Allah agar tetap merasakan iman, bahwa Tuhan adalah ‘rabb’ yang telah menciptakan dan memelihara, merasa ‘terasing’ dari masyarakatnya, merasa ‘lain sendiri’. Isyarat-isyarat yang muncul dari qalbu sama sekali tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh masyarakat disekelilingnya, namun hanya sebatas itu, karena iman tersebut belum mempunyai petunjuk pelaksanaannya, apa itu ‘rabb’ yang dirasakan dalam qalbu, bagaimana cara menyembah-Nya, bagaimana aturan-aturan-Nya. Kondisi inilah yang membuat Rasulullah ‘bingung’, makanya beliau sering menyendiri. Bisakah anda menjelaskan penyebabnya mengapa nabi Muhammad SAW, seorang laki-laki dalam ‘usia emas’ antara 25-40 tahun, punya kehidupan yang mapan dan sejahtera, tiba-tiba punya sikap yang menyendiri, merasa terasing dari kaumnya..??. Ini digambarkan QS 93:7 ‘wawajadaka daallan fahadaa’, kata ‘dhalla’ yang diartikan sebagai ‘bingung’ dirumuskan sebagai’ suatu keadaan yang tidak mengantar kepada kebenaran’. Apa yang terjadi pada nabi Muhammad SAW persis seperti yang terjadi pada nabi Ibrahim ketika beliau ‘mencari Tuhan’. Qalbu sudah mengatakan dan mengakui adanya ‘rabb’ yang menciptakan dan memelihara, namun segala pikiran untuk menjelaskan hal tersebut selalu buntu. Ini juga merupakan bukti bahwa ‘manusia sebagai makhluk yang mengabdi/beribadah’ sesuai QS 51:56 : ‘wamaa khalaqtu aljinna waal-insa illaa liya'buduuni’ - Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Kaum Musyrik Makkah sudah menjalankan pengabdian /ibadah mereka, menyembah berhala, namun qalbu nabi Muhammad SAW yang telah dipelihara Allah mampu menangkap iman menyatakan bahwa tujuan pengabdian tersebut ‘salah sasaran’, namun hanya sampai disitu karena belum ada petunjuk pelaksanaannya.
Selanjutnya QS 42:52 menjelaskan segalanya. Baiklah kita menyimak bagaimana Allah menempatkan kata-kata yang akurat untuk menjelaskan proses Rasulullah mendapatkan hidayah/petunjuk dalam kondisi qalbu yang dipelihara tetap beriman, dan bagaimana petunjuk tersebut berfungsi sebagai ‘cahaya’ yang membuat terang keadaan sebelumnya yang gelap.
Ayat ini dimulai dengan ‘Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Kata ‘wahhyukan kepadamu wahyu’ dalam bahasa Al-Qur’an adalah ‘awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa’ – mewahyukan kepadamu ruh, mengapa tidak dikatakan misalnya ‘kami turunkan Al-Qur’an’ atau ‘kami berikan alkitab’..?? kalimat ‘kami wahyukan’ memberikan kesan bahwa hal tersebut terjadi secara berangsur-angsur , ‘Ruh’ bukanlah suatu benda yang ‘ajeg dan baku’ seperti air ataupun gas. Anda bisa mengatakan apabila sebuah botol diisi air secara berangsur-angsur, maka kita bisa melihat botol tersebut diisi air, mulai dari sedikit, seperempat, setengah, tiga perempat akhirnya penuh. Ketika botol tersebut berisi air seperempatnya, maka tiga perempatnya dikatakan masih kosong. Demikian juga ketika botol tersebut diisi gas, memang sekalipun diisi setengahnya, gas akan menyebar kepada seluruh volume botol tersebut, namun dengan ‘tingkat kepadatan’ yang lebih rendah ketimbang kalau botol tersebut ditambahkan lagi gasnya. Ketika ruh ‘mengisi’ nabi Muhammad SAW secara berangsur-angur, cara kerjanya bukan seperti air atau gas memenuhi botol. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai ruh dan disampaikan berangsur-angsur, bukan berarti ketika baru disampaikan 1 ayat, maka Rasulullah baru ‘terisi’ oleh 1 ayat, setelah diwahyukan setengah ayat Al-Qur’an, Rasulullah dikatakan ‘dimuati 50% Al-Qur’an’, dan setelah Al-Qur’an diturunkan secara lengkap, barulah Rasulullah dikatakan ‘full Qur’an’, itu artinya anda menyamakan cara kerja ruh dengan air atau gas.
Kalimat ini diakhiri dengan ‘min amrinaa’- atas perintah kami, menunjukkan bahwa perihal memberikan petunjuk dan hidayah berupa Al-Qur’an semata-mata atas kekuasaan Allah. Ini terkait dengan ayat Al-Qur’an yang lain yang menyatakan tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan hidayah kecuali Allah. Disini saja kita melihat bagaimana Allah memilih kata-kata yang menakjubkan dalam Al-Qur’an.
Kalimat berikutnya ‘maa kunta tadrii maa alkitaabu walaa al-iimaanu’ - Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Penyebut Al-Qur’an berpindah dari istilah ‘ruh’ menjadi ‘kitaab’, kata ‘kitaab’ menunjukkan suatu kumpulan tulisan yang terdiri dari susunan huruf , kata dan kalimat, sedangkan kata ‘tadrii’ – mengetahui, mempunyai padanan kata ‘ya’lam’ namun tidak sepenuhnya sama. Kata ‘tadrii’ mengandung makna adanya upaya yang sungguh-sungguh serta perhatian dan pemikiran, sedangkan ‘ya’lam’ bisa berarti ‘kita mengetahui dengan diberikan begitu saja’. Maka pemakaian kata ‘tadrri’ bagi Rasulullah untuk objek ‘kitaab dan ‘iman’ menunjukkan ada proses yang bersungguh-sungguh dari Rasulullah untuk mengetahuinya, digambarkan bahwa beliau sampai menyepi menjauhi masyarakatnya. Kata ‘kitab’ dan ‘iman’ diposisikan sejajar dalam kalimat ini yaitu dua objek terpisah yang melekat kepada predikat ‘tadrii’, menunjukkan bahwa Rasulullah sebelumnya ‘mencari-cari’ keduanya. Kita bisa menjelaskan kemungkinan pikiran Rasulullah :”Apa sebenarnya yang ada dalam diri saya ini..?? mengapa saya menolak keyakinan yang ada dalam masyarakat dan meyakini apa yang mereka perbuat adalah salah..??”. namun untuk menyatakan bahwa apa yang ada dalam qalbu beliau adalah kebenaran, petunjuknya belum ada, dan Rasulullah selalu mencari-cari petunjuk tersebut, kata ‘kitaab’ menunjukkan apa yang dicari Rasulullah adalah suatu petunjuk yang lengkap.
Kata ‘belum mengetahui iman’ tidak bisa diartikan bahwa iman tersebut belum ada dalam qalbu beliau, merujuk kepada penjelasan sebelumnya, iman tersebut sudah ada karena sebagai manusia memang fitrahnya adalah makhluk yang beriman, dan Rasulullah sudah dipelihara Allah dalam kondisi qalbunya yang memahami adanya iman disitu, maksud ‘belum mengetahui iman’ sekalipun Rasulullah sudah berusaha untuk mencari-carinya, diartikan iman yang bisa diaplikasikan menjadi ibadah, sesuai tujuan penciptaan manusia.
Hal ini dijelaskan dengan kalimat berikut ‘walaakin ja'alnaahu nuuran’- tetapi Kami menjadikannya (Al Qur'an itu) cahaya. Mengapa Allah mengistilahkan bahwa wahyu yang diturunkan berangsur-angsur dan sudah dengan susah payah dicari-cari Rasulullah, ketika beliau menerimanya, Allah mengibaratkannya dengan ‘nuur’ – cahaya..??. lalu pertanyaan berikut : cahaya untuk melihat apa..??. Saya ambil suatu contoh, ketika anda berada dalam kegelapan di suatu ruangan, disitu ada kursi, meja, dan perabot-perabot lain. Katakanlah anda sebelumnya tidak mengenal apa nama dan bentuk perabot tersebut, namun semuanya bisa anda ketahui dan rasakan keberadaannya. Ketika ruangan tersebut diberi cahaya, anda kemudian bisa melihat bentuk perabot tersebut dengan panca indera yang lain, dan tentu saja karena ini berhubungan dengan cahaya, yang sangat terbantu adalah mata. Dan dengan mata tersebut anda lalu bisa mengetahui benda-benda. Adanya cahaya tidak berarti ruangan tersebut sebelumnya TIDAK ADA BENDA, dan cahaya bukan MEMBUAT BENDA YANG SEBELUMNYA TIDAK ADA MENJADI ADA, benda tersebut tetap saja seperti semula, namun cahaya membantu anda agar mata bisa melihat, dan anda bisa merumuskan benda tersebut lebih sempurna. Al-Qur’an membuat iman yang ada dalam qalbu ‘membentuk’ menjadi sesuatu rangkaian lisan dan perbuatan.
Sebelum diturunkannya Al-Qur’an, bukan berarti iman yang ada dalam qalbu Rasulullah tidak ada, iman tersebut bersemayam disana, namun Rasulullah belum memiliki ‘cahaya’ untuk melihatnya, cahaya tersebut berupa hidayah Allah, berisi petunjuk untuk mengaplikasikan iman yang sudah ada menjadi perbuatan, baik lisan maupun kegiatan tubuh. Iman yang ada baru berupa ‘ungkapan/tanggapan hati’ dan belum berupa ‘pernyataan dalam lisan dan menjelma kedalam seluruh laku perbuatan’. Cahaya tersebut juga tidak bisa diartikan : kalau sudah lengkap cahayanya baru kita mengetahui keberadaan iman dalam qalbu, karena seperti diibaratkan dengan ruh, Al-Qur’an sudah berfungsi sebagai cahaya yang menerangi, sekalipun baru disampaikan 1 ayat saja. Sebagai bukti, kita banyak menemukan orang-orang non-Muslim mendapat hidayah dari Al-Qur’an hanya dengan membaca dan memahami 1 ayat saja, mereka bahkan belum membaca dan memahami seluruh Al-Qur’an, namun keberadaan iman yang sudah ada dalam qalbu mereka bisa mereka mengerti, lalu mereka mengucapkan shahadah, masuk Islam. Al-Qur’an akan berfungsi sebagai cahaya baik secara keseluruhan maupun ayat per ayatnya, bekerja ibarat ruh.
Sekarang kita lanjutkan dengan argumentasi soal ayat al-Muzammil dan al-Mudatsir. Subhanallaah – maha Suci Allah yang telah memelihara dan melindungi Rasul-Nya dari fitnahan dan hujatan. baik datangnya dari musuh-musuh Islam maupun orang yang mengaku Islam sendiri yang telah tersesat, sehingga Dia mentakdirkan adanya hadist asbabun nuzul untuk ayat ini. Orang-orang tersebut mengatakan kedua surat tersebut adalah bukti bahwa Rasulullah ketika itu (artinya juga sebelumnya) masih merupakan orang yang tidak/belum beriman. Sekurang-kurangnya surat al-Mudatsir mempunyai hadist shahih asbabun nuzul, cerita disekitar saat turunnya ayat tersebut. Dikatakan : Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Jabir Ibnu Abdillah, mengatakan Rasulullah berkata :”Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari atas, maka kuarahkan pandanganku kelangit. Tiba-tiba kulihat malaikat yang datang kepadaku sebelumnya duduk diatas kursi antara langit dan bumi. Maka aku bertekuk lutut dan terjatuh ketanah. Aku bersegera kembali kepada keluargaku dan berkata :”Zammiluuni..zammiluuni…”, maka turunlah ayat ‘yaa ayyuha almudatsiiru’ sampai kepada ayat ‘wa arrujza fahjur’…
Panggilan Allah kepada nabi Muhammad tersebut memang mempunyai arti yang harfiah, bahwa waktu itu Rasulullah benar-benar sedang berselimut. Tentu saja umat Islam yang datang belakangan bisa saja memberikan arti majazi terhadap panggilan tersebut, namun arti ungkapan tidak akan otomatis mengatakan : karena Allah memanggil nabi-Nya sebagai ‘orang yang berselimut’ maka artinya nabi pada waktu itu ‘belum beriman’, ini suatu kesimpulan yang ‘sembrono’ karena hanya menyusun pikiran dari satu aspek saja. Orang yang berselimut dalam arti harfiah tentu saja bisa membuatnya tetap sebagai orang yang beriman, apalagi kemudian perintah yang diwajibkan bagi ‘orang yang berselimut’ tersebut adalah sama dengan perintah bagi orang yang beriman, melakukan shalat malam dan menyebarkan ajaran Islam, Rasulullah ternyata tidak menunggu terlebih dahulu Al-Qur’an disampaikan secara lengkap dan baru disebarkan kepada kaum musyrik Makkah.
Catatan :
Terdapat ayat Al-Qur'an yang mengatakan :
qaalati al-a'raabu aamannaa qul lam tu’minuu walaakin quuluu aslamnaa walammaa yadkhuli al-iimaanu fii quluubikum wa-in tuthii'uu allaaha warasuulahu laa yalitkum min a'maalikum syay-an inna allaaha ghafuurun rahiimun
[49:14] Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
[49:14] Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dalam ayat tersebut terdapat kalimat ‘walammaa yadkhuli al-iimaanu fii quluubikum’ – iman belum masuk kedalam hati. Kata ‘masuk’ diterjemahkan dari kata ‘yadkhuli’, pengertian umumnya adalah ‘sesuatu yang sebelumnya berada diluar pindah ke dalam’. Al-Qur’an sendiri mengulang kata ini sekurang-kurangnya 15 kali, sebagian besar menyebut tentang manusia (suatu yang nyata) masuk ke surga/neraka (sebagai hal yang ghaib). 2 ayat lainnya menyebut manusia (nyata) masuk ke mesjid dan kebun (nyata). Hanya pada ayat ini istilah ‘yadkhuli’ mengaitkan dua hal yang bersifat ghaib, yaitu iman dan qalbu sehingga tidak begitu jelas apa yang masuk kemana. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan maksudnya adalah ‘belum sampai kepada hakekat keimanan’.
Jadi buat anda yang sudah mengikrarkan kalimat shahadah, anda kemudian terkena kewajiban melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, keadaan ‘ber-Islam’ tapi kondisi 'belum beriman’ adalah biasa kita hadapi. Kita sering mengerjakan shalat hanya sebagai cara untuk menggugurkan kewajiban, dilakukan dengan terpaksa dan terasa sangat membosankan. Bahkan iman yang adapun sering turun naik, kadang suatu saat anda beribadah dengan khusu’ dan merasa ‘Allah ada dihadapan anda’, menyaksikan anda melakukan ibadah, besok lusa mungkin karena perbuatan maksiat/dosa yang anda lakukan, pintu hati anda kembali tertutup, tapi ibadah tetap anda jalankan. Jangan khawatir, dalam ayat tersebut Allah telah memperlihatkan sifat-Nya yang Maha Pengasih Penyayang, Dia mengatakan :” tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu’, syaratnya cuma satu, yaitu :” jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya’. Teruskanlah beribadah sekuat tenaga anda, minta selalu pertolongan kepada Allah, dan jangan punya pikiran :”AHH..PERINTAH BERIBADAH KHAN HANYA BUAT ORANG YANG BERIMAN, SAYA KHAN BELUM TERMASUK ORANG YANG BERIMAN, JADI KALAU SAYA MELAKUKAN IBADAH ARTINYA SAYA ‘GE-ER’ DONK..??”, Sekalipun dianjurkan untuk mempelajarinya, anda tidak perlu menguasai ilmu nahu syarof ataupun ilmu balaghah terlebih dahulu untuk mengerti bahwa shalat itu adalah kewajiban, puasa Ramadhan adalah kewajiban, berzina, mencuri, membunuh adalah perbuatan maksiat yang dibenci Allah. Insya Allah dengan melakukan ibadah terus-menerus (artinya sekaligus menghindari perbuatan yang dimurkai oleh Allah) dalam kondisi keimanan bagaimanapun, anda akan diberi hidayah oleh Allah..
